Setahun di Farmasi

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Siang liburan yang cukup nikmat. Gue pulang ke kampung halaman, Sintang, Kalimantan Barat. Menikmati perubahan di setiap sudut kamar dan ruangan di rumah ini, berasa seperti gue sudah pergi hampir beberapa tahun, namun hal itu baru terjadi selama setahun.

Aspal jalan di depan rumah cukup baik menurut gue. Lapangan volly yang ada di depan juga baik, tidak terlalu banyak yang berubah. Suasana rumah dan sekitarnya hanya sedikit yang berubah.

Selama setahun gue menuntut ilmu di Yogyakarta, ada hal yang ingin gue sampaikan ke kalian, terutama yang membacanya adalah anak SMA atau sederajat yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.

Gue udah mulai mikir-mikir bakalan bagiin cerita ini semenjak beberapa hari yang lalu. Gue mau berbagi bagaimana gue bisa survive sampai sekarang di farmasi dan apa-apa aja kendala yang biasanya dihadapin oleh mahasiswa farmasi khususnya.

Semester 1 di farmasi, terutama di UII sendiri cukup tidak banyak berubah dari pelajaran SMA, karena pelajaran-pelajarannya belum menjurus ke farmasi, hanya ada satu pelajaran atau mata kuliah yang menjurus yaitu farmasetika. Semester awal sendiri dapat gue lalui dengan baik. 

Lalu menemukan beberapa teman baru. Teman sangat membantu  dalam bidang akademik. Kita bisa punya partner belajar ataupun partner yang lainnya. Gue punya beberapa teman yang biasanya gue jadiin parner untuk belajar, salah satunya ada yang lulusan sekolah farmasi pada saat SMAnya. Dia gue rasa cukup mahir dalam ilmu kefarmasian. Kemudian ada teman gue yang lainnya yang memang jago dalam kimia, karena kimia gue cukup yaa terbilang nggak ngerti-ngerti amat.

Untuk praktikumnya sendiri, gue baru bertemu satu praktikum di semester pertama ini. Praktikum Kimia Farmasi Dasar atau umumnya Kimia Dasar. Praktikum ini tidak jauh berbeda dari mata pelajaran kimia di SMA. Hanya saja, kita melakukan aplikasinya langsung dan dikaitkan dengan bidang farmasi. Ada beberapa teman gue yang di sekolahnya dahulu tidak mendapatkan pengetahuan tentang kimia dasar. Maka dari itu, gue dan beberapa teman yang memang tidak punya basic kimia sama-sama belajar agar kita saling bertukar pendapat dan pikiran dan kita jadi tahu bersama.

Gue dalam hal pratikum agak sedikit kurang menguasai. Gue agak sedikit takut-takut ketika akan menuang asam dalam lemari asam, atau pada saat menggunakan biuret, ataupun hal-hal yang berbentuk mini yang takutnya kalau salah megang bisa jadi pecah dan nantinya akan keluar uang untuk menggantinya. Terkadang gue juga sempat berpikiran "Kalau cairan asam kena tangan gue, terus nanti bolong, ntar gimana? gak bisa makan ama cebok ntar" walaupun yaa tangan gue udah dilindungi menggunakan sarung tangan.

Ujian akhir samester pun dihadapi. Strategi belajar bersama adalah salah satu dari sekian banyak strategi untuk mensukseskan ujian akhir semester. Kami belajar dimulai dari abis isya sampai pukul 10 malam atau lebih. Kami biasanya berpusat di salah satu kost teman-teman gue. Kami belajar tentang pelajaran atau mata kuliah yang akan diujikan. Menggunakan catatan atau soal setahun atau dua tahun yang lalu adalah modal kami untuk menjawab banyaknya soal ujian nanti.

Ketika ujian dimulai, yaa seperti ujian pada umumnya aja lah, pengawas ada dua dan duduk terpisah-pisah tidak berdekatan. Soal sudah ada di meja dan ketika dibuka, ada yang hampir sama dengan soal beberapa tahun yang lalu, ataupun soal tipe baru. Mengerjakan soal tidak perlu cepat-cepat, cukup gunakan waktu yang cukup, dan kalau udah selesai cukup diam, dan liatin kembali soal yang ada, apakah perlu perbaikan apa enggak, atau bisa juga dengan tertidur. Pernah waktu itu, gue sempat mejamkan mata gue ketika udah selesai ngerjain ujian, dan sedikit tertidur. Untungnya tidak mendengkur, kalau hal itu terjadi, waduhh gila udah, gue mau ngomong apa sama pengawas. "kenapa kamu tidur?" tanya pengawas. "saya mengerjakan soal di mimpi pak, susahnya sama kok pak" jawab gue. "emang soal tentang apa?" "soal tentang kehidupan nyata pak." kemudian bapak pengawas hening dan kembali ke tempat.

Setelah ujian, yang paling ditunggu adalah nilai, Nilai kadang bisa lama sekali keluar, bisa juga cepat keluarnya. Kayak orang lahiran, bisa nunggu sampai sembilan bulan baru keluar tuh nilai. Pengalaman gue saat melihat nilai pertama kalinya, gue jujur deg-degan. Itu adalah nilai yang pertama kali keluar, hal yang gue lakuin adalah membuka hp dengan perlahan, kemudian membuka browser lalu mengakses halaman website informasi mengenai perkuliahan. Setelah dibuka, kemudian gue mengklik bagian nilai terutama hasil sementara semester ini. Setelah di cek, dan alhamdulillah nilai yang pertama kali keluar cukup bagus.

Ada juga pengalaman teman gue saat membuka nilainya, waktu itu dia sedang pergi bersama temannya. Pada saat itu, grup kelas gue ribut gara-gara nilai baru keluar. Sontak teman gue agak sedikit kaget dan dia tiba-tiba tidak mampu membuka website yang berisi nilai-nilai yang keluar tadi. Alhasil, temannya yang dimintain tolong karena sangking gugupnya saat membuka nilai. Akhirnya temannya yang membuka websitenya. Teman gue berpesan kepada temannya bilamana nilainya jelek, maka temannya ini akan diam, dann ketika nilainya bagus, temannya ini akan berbicara.

"Aku dapat nilai apa ***** ?"
"hemmmmm"
"Ohhhhh,,, kalau nilai matkul ****** ?"
"Hahahhahh,, bagus-bagus, wkwkwkw " sambil tertawa terbahak-bahak

Begitu seterusnya hingga teman gue ini mau melihat sendiri nilainya. Agak sedikit lebay, tapi itulah realitanya. Kadang kita tak mampu untuk melihat sesuatu yang tak pasti, sehingga meminta bantuan seseorang untuk melihatkannya. Namun, ujung-ujungnya kita harus siap melihat kenyataanya dengan mata kepala sendiri, agar kita tahu bagaimana feel-nya saat melihat sendiri.

Setelah nilai keluar, ada salah satu sistem di kampus gue jika ingin memperbaiki nilai yang jelek dengan ikut semester pendek. Namun, tiap-tiap fakultas memiliki caranya tersendiri. Di fakultas gue sendiri, sistemnya adalah ujian remedial. Ujian remedial sendiri dilangsungkan dengan ketentuan. Per SKS tiap mata kuliah harus dibayar dengan uang yang sudah ditentukan dari universitas. Tiap angkatan memiliki jumlah yang harus dibayar ketika akan membayar uang remedial. Angkatan gue yang paling mahal dalam urusan bayar per-SKSnya. 

Ujian remedial merupakan momok bagi gue selama setahun terakhir. kemampuan gue sendiri juga ada batasnya, kadang dibawah, dan kadang juga ada diatas.
Gue sudah ada beberapa kali ujian remedial, dimana nilai yang gue dapat dibilang cukup jelek. Dengan semangat mengulang, meningkatkan apa yang dirasa kurang dan memperbaiki strategi untuk menghadapi soal-soal yang diberikan nantinya. Siang malam gue belajar, sambil melihat hp sekitar satu jam-an atau ngemil ataupun sambil nonton tv. Pernah saat itu gue sampai tidur di kos teman gue untuk belajar menghadapi ujian remedial.

Nahh, ketika ujian remedial telah selesai, saatnya menanti jawaban dari hasil jerih parah gue selama belajar dan mengerjakan soal remedial. Dari beberapa ujian remedial yang gue ikuti, alhamdulillah nilainya pada naik, walaupun naik hanya satu tingkat, tetap gue syukurin dan berterima kasih kepada Allah karena nilai yang gue dapat adalah hasil kerja keras gue.

Namun, yang gue juga sedih adalah, ada beberapa teman gue yang pada saat remedial, nilainya tidak naik. Saking tidak naiknya nilai, dia sempat melontarkan candaan seperti ini :

"Nilaimu berapa?"
"Nilaiku **, kamu?"
"Nilaiku **, udah bayar mahal-mahal, tau-taunya nilainya turun"
"Hahaha,, sama ee, nilaiku juga gak naik, mending nikah aja langsung yaa"
"Emang kamu udah ada calon??"
"Belum, lagi nyari di Tinder... " Hening

Yaa begitulah kehidupan mahasiswa farmasi, mengahadapi mata kuliah/pelajaran yang sangat-sangat berat, harus berurusan dengan praktikum yang banyak, harus bisa memenage waktu dengan benar, belajar dengan rajin dan giat ketika ujian berlangsung, dan pola tidur dijaga, karena bakalan menggangu ketika laporan yang dibiarkan tertumpuk dikerjakan semalaman suntuk.

Untuk semester selanjutnya tidak jauh berbeda, karena cerita diatas juga ada sangkut pautnya dengan semester 2 yang gue alamin. Oh ya, buat teman-teman farmasi, namun kampusnya lain, mungkin bisa bagiin pengalaman kalian survive sampai sekarang di farmasi, karen prodi ini terbilang cukup berat setelah kedokteran dalam bidang kesehatan.

Mungkin sekian, kurang lebihnya gue mohon maaf. Semoga dapat mengambil manfaat dari cerita yang gue bagiin.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Open Recruitment?

Hibrida : Rekayasa Genetika yang Luar Biasa

Permasalahan Standar Kompetensi Apoteker dan Studi Kefarmasian