Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Haruskah Kita Menjadi Budak Cinta?

Gambar
Banyak yang mengatakan bahwa cinta adalah hal yang paling indah dan paling menyenangkan. Hal tersebut adalah suatu kenyataan, namun fakta di lapangan terkadang berbeda. Pada saat di lapangan, masih banyak pasangan yang menjadi “Budak Cinta”. Budak Cinta sendiri dapat diartikan sebagai seorang yang selalu berusaha untuk selalu romantic di setiap saat, namun apa daya, romantisnya dibilang sangat berlebihan dan diluar nalar. Dalam artian, dirinya harus membahagiakan pasangannya, titik, tanpa kompromi.
Menjadi budak cinta (bucin) sepertinya menjadi kewajiban bagi beebrapa pasangan, terutama pasangan baru. Hal tersebut telah aku perhatikan pada beberapa pasangan baru yang kutemui. Memang hal tersebut menjadi penyesuaian pada saat cinta pertama bagi banyak orang. Menjadi bucin adalah tahapan yang dilewati dalam fase percintaa, dikarenakan hal tersebut dilakukan untuk membahagiakan pasangan. Takut untuk kehilangan cinta pertama membuat mereka bisa menjadi bucin.
Sudah membahas tentang apa it…

Mengulik Teror Koboi Jalanan Kota Pelajar: Klitih

Gambar
Berbicara mengenai Yogyakarta atau yang biasa disebut Jogja tak lepas dari tagline kota tersebut, Berhati Nyaman. Memang, Berhati nyaman atau bisa dibilang “Nyaman”, memang benar terjadi di Jogja. Keramahan warganya, kemudahan akses fasilitas publik, tempat wisata yang beragam, dan tempat mengenyam pendidikan tinggi yang mempuni, melekat pada diri Jogja secara umum. Namun, dibalik itu semua, Jogja menyimpan cerita yang cukup pilu untuk didengar, tentang teror koboi jalanan, Klitih.
Klitih atau Nglitih, nama yang menurutku baru terdengar ketika aku sudah 2 tahun tinggal di Jogja. Klitih yang kutau adalah suatu nama tempat yang merujuk pada suatu pasar, yaitu pasar Klitikan. Dilansir dari kumparan.com, makna Klitikan adalah mencari barang-barang bekas dan merujuk ke kegiatan tidak jelas dan bersifat santai.
Masih dilansir dari situs yang sama, sejarah kekerasan yang dilakukan pelajar-pelajar yang tidak bertanggungjawab di Yogyakarta sudah sejak tahun 1980-an hingga 1990-an. Hal tersebut …