Dunia Tidak Baik-Baik Saja; Konflik Kemanusiaan Bertambah

Perseteruan Rusia dan Ukraina
(Sumber : beritasatu.com)

Judul diatas sudah mencerminkan keadaan dunia pada beberapa tahun terakhir. Awal tahun 2020 yang lalu, wabah Covid-19 melanda dunia, serangan kejutan Amerika Serikat yang menewaskan salah satu jendral Iran yaitu Jendral Qasem, dan peristiwa besar lainnya yang mengubah sejarah dunia hingga di awal tahun 2022 ini. Memulai tahun 2022, hal yang tidak di inginkan dunia terjadi. Rusia memulai invasi ke Ukraina setelah memutuskan untuk bergabung bersama pakta kerjasama militer Atlantik Utara bentukan Amerikan Serikat pada perang dingin yang lalu, NATO. Hal itu membuat Rusia ketar-ketir, dikarenakan posisi Ukraina yang dekat dengan wilayah Rusia. Namun, sebelum itu kita bahas sedikit kronologi konflik ini bisa terjadi.

Memang konflik ini tidak lepas dari sejarah yang sangat panjang. Dilansir dari CNBC Indonesia, awalnya Ukraina sendiri adalah bagian dari Uni Soviet, kemudian setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991 wilayah Ukraina merdeka dan mendirikan Negara sendiri, walaupun itu masih mengikuti CIS atau  Commonwealth of Independent States bersama dengan Negara Belarus dan Rusia. Ukraina kemudian menilai bahwa dibentuknya CIS ini adalah usaha Rusia untuk mengontrol wilayah Ukraina, sehingga terjadilah perpecahan dan pada tahun 1997 Ukraina dan Rusia membuat perjanjian persahabatan yaitu Rusia diizinkan untuk mempertahankan kepemilikan mayoritas kapal di armada Laut Hitam yang berbasis di Krimea, Ukraina. Rusia pun harus membayar Ukraina biaya sewa karena menggunakan Pelabuhan Sevastopol. Lambat laun, pada tahun 2004 terjadi revolusi di Ukraina dan hal tersebut menjadi awal dari Ukraina yang terbebas dari bayang-bayang Rusia. Presiden Viktor Yuschchencko yang merupakan presiden terpilih ini lebih memihak kepada barat. Hal tersebut membuat Presiden Putin berang dan tidak nyaman. Rusia kemudian mengguncang Ukraina dari dalam dengan membuat Oposisi (Pro Rusia) dalam konstestasi politik di Ukraina. Tahun 2010, naiklah Presiden Viktor Yanukovych yang sangat pro kepada Rusia. Rusia akhirnya bisa bernafas lega “Sejenak” karena wilayah Ukraina sudah dipimpin oleh pemimpin yang pro terhadap negaranya. Tahun 2014 adalah tahun yang membuat Rusia kembali ketar-ketir lagi, pasalnya terjadi gelombang revolusi dari rakyat Ukraina yang ingin melepaskan diri “Lagi” dari bayang-bayang Rusia. Terjadilah kekosongan kekuasaan yang membuat Rusia harus tancap gas lagi untuk memboyong Ukraina kembali ke pelukan mereka. Wilayah Krimea yang berada di Selatan Ukraina di aneksasi Rusia secara paksa. Selain menganeksasi wilayah tersebut, Rusia juga mendukung separatis yang ingin memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung ke Rusia di wilayah Timur Ukraina. Setelah Presiden baru Ukraina yaitu Volodymyr Zelensky terpilih menjadi Presiden Ukraina melaui pemilu dan lebih condong kepada Barat serta ingin bergabung ke NATO, Rusia dan Presiden Putin kembali memanas. Tidak terelakkan, Rusia pasang badan dengan mengirim pasukannya di perbatasan Ukraina di bulan Februari dan kemudian pecah konflik di akhir Februari hingga awal Maret ini.

Baik, disini aku bisa kasi opini dalam beberapa sudut pandang, baik dari sudut pandang Rusia, Ukraina, maupun sudut pandang Kemanusiaan atau Netral.

Kita mulai dulu dari segi Rusia. Sudut pandang Rusia lebih menitikberatkan pada wilayah penyangga. Dalam hal ini, Rusia berusaha untuk melindungi wilayahnya dari ancaman NATO dan Barat. Sehingga perlunya wilayah Ukraina ini akan menjadi penyangga dalam pertahanan Negara Rusia. Menurut pendapat Sosiolog Janus TH Siahaan yang dimuat di Kompas.com menyebutkan bahwa secara geopolitik dan ideologis, NATO dan barat adalah lawan tanding Moskow dan dapat mengancam kedaulatan Rusia, dan untuk itulah Moskow berusaha membuat Zona Penyangga (Baik itu Negara kecil bentukan separatis maupun Negara besar seperti Belarus) pada Ukraina. Ditambah, Presiden Putin juga mengkawatirkan apabila Ukraina resmi bergabung bersama NATO, otomatis NATO akan melebarkan pengaruhnya ke wilayah Eropa Timur dan tentunya membuat pangkalan militer di Negara anggota. Pastinya, ini menjadi ancaman kedaulatan Rusia menurut Presiden Putin. Walaupun begitu, hal ini juga mengancam nyawa-nyawa yang tak berdosa di wilayah Ukraina dan aku sangat mengecam tindakan Rusia ini. 


(Sumber : https://pixabay.com/id/photos/tolong-peta-ukraina-huruf-konflik-7041214/)

Sudut pandang Ukraina lebih kepada kebebasan untuk bisa memilih atau hak Ukraina dalam kontestasi politik global dengan bergabung bersama NATO dan condong ke Barat. Rakyat Ukraina juga ingin terlepas dari bayang-bayang Rusia. Ukraina melihat invasi yang dilakukan Rusia adalah suatu kejahatan dan Presiden Zelensky memerintahkan kepada seluruh Rakyat Ukraina untuk bisa membela tanah airnya. Zelesky bahkan mengajak warga asing di negaranya untuk membela Ukraina melawan Rusia. Langkah yang dilakukan Presiden Zelensky menurutku cukup berisiko. Mengerahkan rakyat Ukraina untuk dapat membela dan membantu militer Ukraina bertujuan untuk membela negara berujung menjadi mengorbankan rakyat yang tidak bersalah, walaupun rakyat Ukraina cukup antusias untuk membantu militer Ukraina.

Kedua sudut pandang memang punya argumennya masing-masing, namun ada yang lebih penting dari kedua sudut pandang tersebut yaitu sudut pandang kemanusiaan. Bayangkan saja, konflik di Ukraina ini pastinya memakan korban jiwa, baik dari sipil maupun militer. Banyak warga sipil yang mengungsi keluar dari Ukraina, dan mungkin saja ada yang terjebak disana. Bantuan kemanusiaan seperti pangan, obat-obatan, selimut, dan lainnya terus berdatangan. Harusnya konflik ini tidak semestinya terjadi, baik di Ukraina maupun di tempat lainnya di dunia. Semua tindakan kekerasan harusnya jangan sampai terjadi. Bayangkan konflik kemanusiaan sudah lama terjadi sejak bertahun-tahun bahkan berabad-abad yang lalu di muka bumi. Mungkin konflik yang maish berlangsung hingga sekarang adalah konflik Palestina-Israel, konflik di Suriah dan kawasan timer tengah lainnya, dan konflik kemanusiaan lain di muka bumi. Namun, yang terjadi adalah, banyak pihak, terutama pihak barat dan sekutunya seakan-akan ingin melanggenggkan perang dengan cara mengirim bantuan militer di wilayah konflik Ukraina. Secara tidak langsung hal tersebut mendukung perang, memicu perang agar terus terjadi, tanpa adanya resolusi perdamaian dan solusi lainnya. Bahkan pihak-pihak tersebut seakan ingin mencuci tangannya dengan mengatakan mengutuk keras tindakan Rusia. Well, aku bisa setuju dengan hal tersebut, namun kenapa sampai kirim bantuan senjata? Bahkan Negara-negara, federasi olahraga, ekonomi dan lainnya yang mengecam tindakan Rusia tidak berlaku pada Negara-negara lain yang sedang berkonflik di belahan bumi lainnya. Negara-negara, federasi olahraga, ekonomi dan lainnya tersebut seakan “BUTA” dengan konflik kemanusiaan yang terjadi di tempat lain.


Kerusakan akibat konflik
(Sumber : https://pixabay.com/id/photos/rumah-sampah-kehancuran-konkret-3466731/)

Rakyat yang hanya bisa melihat puing-puing kehancuran
(Sumber : banten.tribunnews.com)

Harapannya adalah konflik ini cepat selesai, konflik ditempat lain juga cepat selesai dan dunia dalam keadaan damai tanpa ada peperangan yang terjadi, walaupun terkadang untuk menuju perdamaian membutuhkan jalan yang panjang dan bahkan hingga berdarah-darah. Semoga PBB, Ukraina, dan Rusia menemui titik terang dan membawa perdamaian untuk pihak-pihak tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Open Recruitment?

PDD; Pekerjaan Kompleks yang Tak Relevan Lagi

Corona Tiba di Indonesia; Masyarakat Panik Higienitas